Jumat, 12 November 2010

cerpen,puisi

Sorry,..i’m late


Setiap manusia itu akan senantiasa mengenang kisah-kisah cintanya.Betapapun dalam samudra cintanya pada kekasihnya kini.Kisah-kisah cinta beserta impiannya yang kandas itu akan tetap mengapung menghuni pasang surut jiwa,sementara kegetiran dan kebahagiaannya akan selalu menjadi misteri yang tak terungkapkan.Tapi diantara itu semua.Hanya ada satu kisah yang tak sampai dipesisir pantai,tak jua karam dan tenggelam.Kisah itu terombang-ambing dilaut lepas kehidupan,seperti kapal hantu dibalik kabut yang mengundang ketakutan sekaligus rasa penasaran para pecinta untuk menahkodainya.Kisah itu adalah kisah cinta rahasia yang terlambat untuk diungkapkan.Kisah yang pernah kualami dan tak pernah kuceritakan hingga saat aku menulis cerpen ini.
Irma,nama wanita itu.Wajahnya secerah matahari dan kehangatannya adalah yang pertama menyulut hatiku.Sebelum ia benar-benar membakar seluruh perasaanku pada waktu demi waktu pertemuan kami.Dan aku yang tak hidup dizaman Monalisa,akhirnya merasa bisa menemukan senyumnya yang misterius itu dibibir Irma.Ya,saat itu.Apapun tentang wanita itu.Menurut pendapat mataku,adalah yang ter-dibanding wanita lainnya.Kalian boleh saja menyebutku terlalu berlebihan.Tapi ada suatu kekuatan dalam kenanganku yang seakan mengutukku,bila aku menggambarkan sosok Irma dengan perkataan yang biasa-biasa saja.
Aku berjumpa dengannya.Ketika aku menjadi murid pindahan di salah satu SLTP swasta diBanjarmasin.Dan seperti murid baru pada umumnya.Aku menghiasi diriku dengan kebungkaman.Hening diantara keramaian tawa anak-anak lain yang asyik bercanda disekelilingku.Tapi Irma yang waktu itu menjadi teman sebangku ku,rupanya tak mengijinkan keterasinganku itu berlarut-larut.Di tiga hari kesendirianku.Ia memasuki kesepianku dengan suara riangnya.”Kamu kok bengong aja.Ngomong dong?”.Katanya,sambil menepuk pundakku.Aku terkejut,hanya bisa membalas dengan senyum.Aku saat itu sedang melamun dan tak sempat menyiapkan kata-kata untuk membalasnya.”Nama kamu ismu kan.Aku Irma”.Lagi-lagi aku hanya membalas dengan senyumku.”Oh iya.Kamu tau kan kalo pak Zain tadi ngasih kita Pr bahasa inggris.Kita kerjain dirumah ku yuk?”.
“Kapan?”.Sahutku.Akhirnya.
“Sore ini”.Aku mengangguk setuju.Ia pun lantas memberi tahuku alamat rumahnya.Dan segalanya pun dimulai sejak saat itu.Aku jatuh cinta pada Irma untuk hari-hari berikutnya.Cinta yang pertama namun dalam.Karena cinta itu tak kucari tapi datang sendiri dalam kepasifanku.Ia yang dulu kuanggap sebagai dongeng para pujangga kini hidup dihatiku.Menjadikan diriku sendiri bagian dari dongeng itu.Dan mereka yang oleh cinta tak diajari bagaimana cara membaca perasaan.Tak akan mengerti makna dibalik dongeng itu.Sama seperti ketika cinta menganugrahiku dengan bahasa dan air mata yang tak sempat dimengerti oleh Irma,hingga saat hari kelulusan sekolah kami dan ia pun berlalu.
Sejak saat itu.Lima tahun lamanya aku tak berjumpa dengannya lagi.Tapi segala kenangan dan bayangan seorang Irma menciptakan hantu rasa penyesalan disepanjang jalanku.Bila malam tiba,Ia hadir laksana sayap-sayap tak nampak disekeliling ranjangku.Dikala aku sedang menyendiri.Ia menjelma menjadi jeritan kerinduan didasar hati dan mengucurkan bayangan kehilangan dikelopak mata.Irma yang periang,yang dulu menjadi mutiara terindah masa mudaku.Kini tak ubahnya seperti batu pualam yang bergetar bisu dihatiku.Dikubur oleh waktu demi mencemerlangkannya untuk menyakitiku.Karena kecemerlangannya itu tak pernah kumiliki.
Pada suatu malam.Ketika aku pulang dari tempat kerja.Ku dengar suara klakson motor yang cukup keras berbunyi dibelakangku.Segera kutoleh sumber suara itu.Dan aku temukanlah wajah perasaan yang tak tuntas itu.Irma duduk diatas motornya.Parasnya tak berubah malah semakin terlihat cantik.Waktu rupanya tak membuatnya menua,melainkan hanya mematangkannya.”Hei,ismu.Kamu masih ingat aku kan.Aku Irma”.Jeritnya.
“Ya,aku ingat!Aku tak mungkin melupakanmu”.Sahutku.Kami berdua lantas larut membaca ayat-ayat nostalgia,yang terukir diwajah kami.Sanubariku merasakan perasaan Adam ketika ia bertemu Hawa.kebahagiaanku saat itu membuatku lupa bahwa aku hanyalah rubah yang baru meraih bunga.Aku berfikir pertemuanku kembali dengan Irma.Adalah jawaban tuhan atas segala doa-doaku padaNya.Ia lah yang menciptakan rasa itu.Maka Ia pulalah yang berkenan mengakhiri dan mempersatukannya.
Satu minggu sejak malam itu.Ku putuskan untuk mengungkapkan perasaanku yang tertunda pada Irma.Ku undang ia makan malam dan tanpa berbasi-basi lagi kuungkapkan apa yang seharusnya kuungkapkan bertahun-tahun lalu.”Aku mencintaimu sahabatku”.Bisik hatiku.Tapi sebelum ia terangkai berupa kata-kata melalui bibirku.Irma terlebih dulu membungkamnya dengan keras.”Aku sebentar lagi akan menikah”.Ia mengatakan itu semua dengan senyum yang terukir diwajahnya.Aku mendengar itu semua dengan airmata yang mengucur dihatiku.”Aku ingin mengundangmu datang dan menjadi saksi saat –saat persatuanku dengan belahan jiwaku itu”.Aku membisu.Segala kehadirannya.Apa yang diucapkan dan dirasanya.Berbeda dengan penglihatan bathinku.Irma yang malam ini tadinya seperti bidadari.Kini menjelma menjadi seorang algojo yang muncul dihadapanku,untuk mengundangku datang menyaksikan eksekusi mati anak semata wayangku.”Apakah kamu akan datang?”.
“Ya,aku akan datang dan menyaksikan saat-saat penyatuanmu itu”.Ketika menyanggupi undangannya itu.Aku sudah merasakan kehancuranku sebelum menggapai hari itu.Dan malamku yang tadinya.Seharusnya! bertabur bunga dan menggawaiku kedalam taman cinta.Kini pada jalan pulangku nampak sangat mencekam.Dikiri-kananku.Jiwaku menemukan bayangan Irma dan calon suaminya menggiringku menuju neraka.Tempat hukuman bagi hatiku karena tak pernah mengucapkan apa yang dirasanya.Dalam kitab cinta.Diam itu ternyata bukan emas melainkan suatu dosa besar.Dan aku tak akan pernah mendapat ampunan seumur hidupku.
Ketika saat-saat penyatuan Irma dan suaminya itu tiba.Aku memasuki mahligainya yang sakral dengan jubah penderitaan.Aku salami Irma,sang mempelai yang tak pernah kudapatkan dengan tangan yang gemetar.Karena kuserahkan pula ditangannya hatiku untuk dipatahkan.Irma rupanya merasakan kepingan-kepingan hatiku diantara jemarinya.Ia bertanya padaku.”Hari ini adalah hari pernikahanku.Hari paling bahagia dalam hidupku.Tapi mengapa kau datang dengan wajah seolah berduka cita?”.Aku lantas menatap wajahnya seperti tatapan burung malam bermata kelam pada mentari pagi,lalu menjawab.”Bersamaan dengan hari pernikahanmu ini.Digelar pula prosesi pemakaman untuk cintaku.Ia yang sekian lama menyelami kedalaman rahasiamu telah mati dengan penuh penyesalan dan dikubur dibawah ranjang pengantinmu.Apakah kau ingin tau pesan terakhirnya sebelum roh suci itu tercerabut dari dadaku?”.
“Ya,aku ingin tau”.Sahut irma.
“My dear Irma,Sorry,I’m late”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar