Jumat, 01 April 2011

cerita mengharukan dari palestina

“Abi, aku sekarat.”

Kalimat ini terus bergema di telinga Kamal Awaga bersamaan dengan sakit hati yang ia rasakan. Ini adalah kalimat terakhir yang diucapkan anaknya, Ibrahim yang berumur 9 tahun, sebelum ia akhirnya menjadi syahid (Insya Allah) akibat serangan biadab Israel.

“Mereka membunuh putraku dengan tangan dingin,” ungkap Kamal dalam keadaan yang terguncang menghadapi kematian anaknya yang tragis.

Ibrahim akhirnya menambah jumlah korban jiwa anak-anak Gaza yang dibunuh Israel, menjadi lebih dari 350 nyawa sejak 27 Desember silam.

Jika yang lain menjadi korban peluru-peluru yang membabi buta atau bombardir yang dilakukan zionis Israel laknatullah, nasib Ibrahim lebih tragis dari mereka.

Ia menjadi bahan percobaan yang digunakan regu cadangan tentara Israel laknatullah.

“Israel sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan kepada dia yang tidak berdosa,” tambah Kamal yang saat itu masih berada di RS. Al-Shifa, mengurus jenazah putranya.

“Mereka tidak memiliki rasa kasihan untuk tubuhnya yang kecil.”Hari yang Cerah

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benak keluarga Kamal Awaga bahwa mereka akan mengalami nasib yang tragis.

Mereka bangun tiap paginya untuk menghadapi hari yang cerah, bukan untuk terkunci dalam sebuah ruang kecil untuk menghindari bom-bom Israel.

“Ibu, biarkan aku sarapan di luar, di kebun kita. Aku bosan tinggal dalam ruang sempit ini,” ujar Ibu Ibrahim yang mengulangi perkataan anaknya.

Satu jam kemudian, sebuah meja diletakkan di kebun mereka dan satu keluarga itu berharap dapat menikmati sarapan kali ini dengan sempurna, momen yang jarang mereka temui. Mereka berusaha acuh terhadap keadaan sekitar, mereka tidak memperhatikan dari jauh apakah misil-misil Israel menargetkan rumah mereka.

Sebuah misil pertama menghancurkan acara mereka setelah itu misil-misil lainnya menghancurkan rumah mereka.

“Abi, aku sekarat,” ujar Ibrahim saat itu dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

“Cepat pergi,” ujar Kamal Awaga kepada istri dan dua anaknya sambil menggendong tubuh Ibrahim.

Tetapi, belum sampai ke gerbang rumah, peluru menghujani keberadaan mereka.

Satu peluru mengenai lengan Ibu Ibrahim dan satu peluru lainnya mengenai pinggang Kamal Awaga.

Dua saudara Ibrahim bersembunyi di balik puing-puing reruntuhan rumah mereka.

Praktek Menembak

Ketika hujan peluru telah selesai, keluarga Awaga berfikir kesengsaraan mereka selesai. Tetapi tentara zionis Israel tidak selesai sampai di siru.

“Tentara Israel semakin mendekat, aku fikir, aku akan menjadi target mereka,” uajr Awaga.

“Tetapi ternyata mereka mengarahkan senjatanya ke anakku, Ibrahim,” lanjutnya mengulang kejadian pahit yang ia alami dengan bulir-bulir air mata di matanya.

Seorang tentara biadab datang mendekati tubuh Ibrahim, memutar tubuh Ibrahim dengan kakinya sambil tertawa setelah itu menembakkan senjatanya kea rah kepala Ibrahim.

Beberapa waktu kemudian, Kamal mencoba menenangkan dirinya setelah menyaksikan kebiadaban Israel terhadap tubuh putranya.

“Setiap peluru yang ditembakkan, mereka iringi dengan nyanyian yang aku tidak mengerti maksudnya. Namun itu seperti merayakan sesuatu.”

Saat mereka merasa telah cukup melakukan “latihan”, mereka meninggalkan rumah Kamal.

Empat hari keluarga Awaga terperangkap hingga kahirnya tim medis berhasil mencari jalan untuk menyelamatkan keluarga itu dan membawanya ke rumah sakit.

“Apakah yang mereka lakukan, layak untuk putraku?” ujarnya dengan terisak. (Hanin Mazaya)
Read More..

cerita mengharukan dari palestina

“Abi, aku sekarat.”

Kalimat ini terus bergema di telinga Kamal Awaga bersamaan dengan sakit hati yang ia rasakan. Ini adalah kalimat terakhir yang diucapkan anaknya, Ibrahim yang berumur 9 tahun, sebelum ia akhirnya menjadi syahid (Insya Allah) akibat serangan biadab Israel.

“Mereka membunuh putraku dengan tangan dingin,” ungkap Kamal dalam keadaan yang terguncang menghadapi kematian anaknya yang tragis.

Ibrahim akhirnya menambah jumlah korban jiwa anak-anak Gaza yang dibunuh Israel, menjadi lebih dari 350 nyawa sejak 27 Desember silam.

Jika yang lain menjadi korban peluru-peluru yang membabi buta atau bombardir yang dilakukan zionis Israel laknatullah, nasib Ibrahim lebih tragis dari mereka.

Ia menjadi bahan percobaan yang digunakan regu cadangan tentara Israel laknatullah.“Israel sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan kepada dia yang tidak berdosa,” tambah Kamal yang saat itu masih berada di RS. Al-Shifa, mengurus jenazah putranya.

“Mereka tidak memiliki rasa kasihan untuk tubuhnya yang kecil.”

Hari yang Cerah

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benak keluarga Kamal Awaga bahwa mereka akan mengalami nasib yang tragis.

Mereka bangun tiap paginya untuk menghadapi hari yang cerah, bukan untuk terkunci dalam sebuah ruang kecil untuk menghindari bom-bom Israel.

“Ibu, biarkan aku sarapan di luar, di kebun kita. Aku bosan tinggal dalam ruang sempit ini,” ujar Ibu Ibrahim yang mengulangi perkataan anaknya.

Satu jam kemudian, sebuah meja diletakkan di kebun mereka dan satu keluarga itu berharap dapat menikmati sarapan kali ini dengan sempurna, momen yang jarang mereka temui. Mereka berusaha acuh terhadap keadaan sekitar, mereka tidak memperhatikan dari jauh apakah misil-misil Israel menargetkan rumah mereka.

Sebuah misil pertama menghancurkan acara mereka setelah itu misil-misil lainnya menghancurkan rumah mereka.

“Abi, aku sekarat,” ujar Ibrahim saat itu dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

“Cepat pergi,” ujar Kamal Awaga kepada istri dan dua anaknya sambil menggendong tubuh Ibrahim.

Tetapi, belum sampai ke gerbang rumah, peluru menghujani keberadaan mereka.

Satu peluru mengenai lengan Ibu Ibrahim dan satu peluru lainnya mengenai pinggang Kamal Awaga.

Dua saudara Ibrahim bersembunyi di balik puing-puing reruntuhan rumah mereka.

Praktek Menembak

Ketika hujan peluru telah selesai, keluarga Awaga berfikir kesengsaraan mereka selesai. Tetapi tentara zionis Israel tidak selesai sampai di siru.

“Tentara Israel semakin mendekat, aku fikir, aku akan menjadi target mereka,” uajr Awaga.

“Tetapi ternyata mereka mengarahkan senjatanya ke anakku, Ibrahim,” lanjutnya mengulang kejadian pahit yang ia alami dengan bulir-bulir air mata di matanya.

Seorang tentara biadab datang mendekati tubuh Ibrahim, memutar tubuh Ibrahim dengan kakinya sambil tertawa setelah itu menembakkan senjatanya kea rah kepala Ibrahim.

Beberapa waktu kemudian, Kamal mencoba menenangkan dirinya setelah menyaksikan kebiadaban Israel terhadap tubuh putranya.

“Setiap peluru yang ditembakkan, mereka iringi dengan nyanyian yang aku tidak mengerti maksudnya. Namun itu seperti merayakan sesuatu.”

Saat mereka merasa telah cukup melakukan “latihan”, mereka meninggalkan rumah Kamal.

Empat hari keluarga Awaga terperangkap hingga kahirnya tim medis berhasil mencari jalan untuk menyelamatkan keluarga itu dan membawanya ke rumah sakit.

“Apakah yang mereka lakukan, layak untuk putraku?” ujarnya dengan terisak.hanin majaya.
. Read More..

Rabu, 17 November 2010

contoh cerpen 2;Raja Sepi

Waktu telah cukup jauh melangkahkan kaki-kaki lembutnya,mengendap-ngendap dari lorong malam menuju cahaya fajar.Ku buka mataku perlahan-lahan,membiarkan jiwaku beranjak dari selimut kemalasan,membuka jendela kamarku untuk menghayati kemasyuran hari yang baru dan meratapi kuasa perubahannya pada wujud,tingkah laku dan cara berfikir manusia.Ku layangkan pandanganku pada taman kecil disisi kanan kamarku, keindahan adalah hal pertama yang ingin kulihat karena seharian nanti hanyalah keburukan dari hati manusia yang dikendalikan oleh egoisme yang akan kutemukan.Sekali lagi,mungkin sudah ratusan kali kudapati seorang pria yang sama duduk dibangku tuanya.Pria itu sudah bertahun-tahun ini menghuni rumah kosong diseberang tempat tinggalku.Ia selalu menyendiri dan tak pernah berinteraksi dengan warga sekitar.Tak jelas dari mana ia berasal dan apa pekerjaannya.Yang dilakukannya hanyalah berdiam diri didalam rumah lalu keluar untuk duduk di taman sambil menulis-nulis sesuatu pada secarik kertas yang selalu dibawanya.Tingkah lakunya inilah yang membuat orang-orang dikampungku menyebut pria itu gila.Tapi menurutku kesendirian bukanlah suatu ketidakwarasan,mungkin saja ada sesuatu yang mendera bathin pria itu.Prahara yang tak bisa dijelaskan oleh lisan kata-kata,karena tak ada fikiran yang mengerti dan tempat hati untuk berbagi.Seperti seekor kijang yang terluka dan tahu bahwa tak ada penyembuh.Ia mengasingkan diri dari rombongannya ke dalam gua kesepian.Dimana ia menjadi raja didalamnya dan merintih lara sendiri. Pria itu rupanya menyadari kehadiranku.Ia melempar senyumnya lalu mengerlingkan matanya seakan mengajak mataku untuk menatap kearah yang sama.Arah utara dari taman yang selalu ia pandangi.Dan akhirnya kusadari bahwa selama ini pria itu tak hanya sekedar duduk menghabiskan waktu lalu menulis-nulis sesuatu disecarik kertas tapi juga memandangi sebuah balkon indah yang biasa digunakan sepasang suami istri kaya penghuninya untuk bercengkrama.Lantas,apa yang ada dalam fikiran pria itu dengan mengintai kemegahan bangunan dan perasaan sepasang sejoli itu?.Adakah sesuatu yang jahat tengah direncanakannya?.Tapi jika benar demikian.Mengapa ia membagi niat busuknya padaku?.Bukankah sang singa takkan membagi mangsanya pada seekor kancil?.Dan sebelum pertanyaan-pertanyaan itu terjawab.Suami istri itu menutup pintu balkon.Pria itu pun berlalu dari taman,meninggalkan aku serta bunga-bunga penasaran dalam dadaku.
Tak berapa lama kemudian.Di karenakan bunga-bunga penasaran dalam dadaku itu semakin mekar dan menjulang.Dengan terburu-buru kubungkus sarapanku dan bergegas menuju rumah yang menjadi tempat tinggal pria itu.Setelah beberapa kali kuketuk pintunya dengan sopan.Terlihatlah sesosok wajah bersahaja diantara kedekilan yang menatapku teduh.Pria itu mungkin mencoba mengenaliku.Apakah aku hantu ataukah manusia?.Karena sekian lama tiada yang berkunjung,kecuali bayang-bayang menakutkan yang membuatnya terus bersembunyi dirumah tua ini.Dan ketika kuberikan bungkusan sarapanku,barulah pria itu yakin bahwa aku datang sebagai sahabat bagi jiwanya.Ia pun memintaku masuk.Tentu saja dengan senang hati ku ikuti keinginannya itu.
Keadaan dalam rumah itu sangatlah tak teratur.Kertas-kertas berserakan dimana-mana.Sarang laba-laba dan debu-debupun seakan dibiarkan.
“Selamat datang di istanaku yang sepi dan aku adalah rajanya”.Pria itu berkata padaku sambil tertawa.Dan kubalas tawanya itu seakan-akan perkataannya tadi sangat lucu.”Itu adalah singgasanaku”.Pria itu menyambung perkataannya seraya menunjuk kursi dan meja tua yang diatasnya dipenuhi kertas-kertas dan lilin sebagai penerang.Bathinku sontak menebak.Mungkin pria itu menghabiskan waktunya di rumah ini dengan menulis.Dan terkaanku ternyata tepat,ia menunjukkanku beberapa lembar puisinya yang ku baca sambil menemaninya menikmati sarapan pagi pemberianku.
Puisi-puisi pria itu sungguh mengharukan.Kata-katanya begitu murung,menggambarkan kepatah hatian dan perasaan yang mendalam pada seorang wanita bernama Sofia.
“Sofia itu kekasihku”.Jawab Pria itu.Saat identitas wanita dalam puisi itu kutanyakan padanya usai sarapan.
“Kekasihmu?Dimana Sofia sekarang?”.Tanyaku lagi.Pria itu lantas menunjuk foto yang terletak diatas meja.Dan ketika mataku menangkap sosok wanita dalam foto itu.Jantungku seketika itu juga bergetar.Karena Sofia yang diakui sebagai kekasih oleh pria itu,ternyata adalah wanita yang selama ini selalu terlihat bercengkrama dengan suaminya diatas balkon.
“Tapi jika Sofia adalah kekasihmu.Mengapa ia sekarang bersama dengan pria kaya itu?”.Pria itu tersenyum dan berkata.”Ceritanya panjang dan tak mungkin kusampaikan pada pertemuan kita yang singkat ini”.Ia berhenti sejenak.Mencoba membuka kenangan-kenangannya.Lalu melanjutkan perkataannya.”Bagiku,Sofia adalah bidadari yang mabuk oleh secawan anggur cinta pada pertemuan pertama kami.Ia kehilangan akal dan meninggalkan nirwana,memotong sayap-sayapnya sendiri lalu menemaniku untuk merasakan beribu-ribu kendi empedu kehidupan.Dimana hanya ada secangkir madu asmara yang membuat kami tetap tersenyum dan menghiraukan buah pahit cinta kami.Sampai pada suatu hari.Ketika kuajak ia menikmati bunga-bunga ditaman.Matanya tak terjatuh lagi pada mawar yang biasa kami pandangi.Tapi tertawan pada sang Dewa yang berdiri di balkon istananya.Apa yang dimiliki sang Dewa itu,segala kemewahannya.Mengingatkan Sofiaku itu pada masa-masa keemasannya sewaktu menjadi bidadari di nirwana.Ia tersadar dari mabuk cintanya dan meninggalkanku”.
“Jika kau benar-benar mencintainya.Mengapa kau tak berusaha mencegah dan membawanya kembali?”.Tanyaku.Pria itu menggelengkan kepalanya.”Aku tak akan menahan langkah seseorang yang pergi dariku demi mencapai kebahagiaannya.Karena demi kebahagiaannya jualah aku memilikinya dan jika ia tak menemukannya padaku.Biarlah ia pergi.Cintaku ini adalah senyum,tawa dan kebebasan bukan airmata serta rasa mengikat”.Pria itu menghentikan pembicaraan kami.Dan akupun tak berniat melanjutkannya.Dalam hatiku,aku berfikir.Apa yang dikatakan pria itu ada benarnya juga.Ya,buat apa kita mempertahankan seseorang yang sudah tak merasakan bahagia bersama kita.Tapi hanyut dalam kepatah hatian saat kehilangannya.Bukankah juga sama percumanya dengan mempertahankannya.Ah,sudahlah.Biarlah Pria itu yang begitu.Gumam hatiku,sewaktu meninggalkan rumah tuanya.
Sejak saat itu.Tiga hari lamanya aku tak bertemu pria itu lagi.Karena mengurus pekerjaanku diluar kota.Setelah aku kembali.Aku sangat terkejut mendapati rumah tua yang dihuni pria itu sudah kosong.Ketika kutanyakan pada warga sekitar.Aku temukan sebuah kenyataan yang sempat mengguncang perasaanku.Pria itu meninggal dunia!.Sang raja sepi yang dianggap orang gila itu menghembuskan nafas terakhirnya diantara tumpukan kertas-kertas diatas mejanya.Saat menulis puisi-puisi kepatah hatiannya.Aku berlari menuju pusaranya.Ku teteskan air mataku untuknya.Perkenalan kami memang singkat tapi kesannya akan abadi dihatiku.Akan terukir disepanjang langkahku.Sebagai rasa hormatku untuknya yang mencintai tanpa memiliki hingga akhir hidupnya.
Setelah puas meratapi riwayatnya diatas pusaranya.Aku kembali kerumah tua dan memunguti puisi-puisi hatinya yang berserakan lalu menyerahkannya pada wanita diatas balkon.Sofia.
“Apa ini?”.tanya Sofia dengan heran.Disampingnya ada suaminya.Kutatap matanya yang sayu.Lalu kukatakan padanya dengan lirih.”Ini adalah ungkapan hati dari sang raja sepi yang tak sempat kau sadarkan dari mabuk cintanya padamu,sewaktu kau meninggalkannya untuk meraih segala kemegahan istana ini dan kemewahan perhiasan yang menempel ditubuhmu itu.Tapi ia yang mampu mengabadikan masa-masa kebahagiaan bersama kekasihnya,meski ia tahu kekasihnya itu kini sedang menikmati kebahagiaan itu dengan yang lain.Adalah pemilik istana kehidupan termegah didunia.Karena tak ditempati oleh kebencian dan sikaf permusuhan”.Sofia ternyata mengerti siapa orang yang kumaksud.Wajahnya berubah sendu dan ia bertanya lagi padaku.”Dimanakah dia sekarang?”.
“Ia telah wafat”.Sahutku.Dan entah sadar atau tidak.Sofia menangis mendengar jawabanku itu.Padahal disampingnya ada suaminya.Aku lantas mengambil secarik tisu dari kantongku,menyerahkannya pada Sofia dan berkata padanya untuk yang terakhir kalinya.”Kau jangan menangis.Karena takut meneteskan air matamu itulah ia membebaskanmu dari hidupnya.Ia pernah berkata padaku.Cintanya adalah senyum dan rasa bahagiamu.Cinta darinya seperti itulah yang menjadi perhiasan termahal yang tak kau sadari,dan kini setelah kau sadari.Kenakanlah seumur hidupmu”. Read More..

Jumat, 12 November 2010

cerpen,puisi

Sorry,..i’m late


Setiap manusia itu akan senantiasa mengenang kisah-kisah cintanya.Betapapun dalam samudra cintanya pada kekasihnya kini.Kisah-kisah cinta beserta impiannya yang kandas itu akan tetap mengapung menghuni pasang surut jiwa,sementara kegetiran dan kebahagiaannya akan selalu menjadi misteri yang tak terungkapkan.Tapi diantara itu semua.Hanya ada satu kisah yang tak sampai dipesisir pantai,tak jua karam dan tenggelam.Kisah itu terombang-ambing dilaut lepas kehidupan,seperti kapal hantu dibalik kabut yang mengundang ketakutan sekaligus rasa penasaran para pecinta untuk menahkodainya.Kisah itu adalah kisah cinta rahasia yang terlambat untuk diungkapkan.Kisah yang pernah kualami dan tak pernah kuceritakan hingga saat aku menulis cerpen ini.
Irma,nama wanita itu.Wajahnya secerah matahari dan kehangatannya adalah yang pertama menyulut hatiku.Sebelum ia benar-benar membakar seluruh perasaanku pada waktu demi waktu pertemuan kami.Dan aku yang tak hidup dizaman Monalisa,akhirnya merasa bisa menemukan senyumnya yang misterius itu dibibir Irma.Ya,saat itu.Apapun tentang wanita itu.Menurut pendapat mataku,adalah yang ter-dibanding wanita lainnya.Kalian boleh saja menyebutku terlalu berlebihan.Tapi ada suatu kekuatan dalam kenanganku yang seakan mengutukku,bila aku menggambarkan sosok Irma dengan perkataan yang biasa-biasa saja.
Aku berjumpa dengannya.Ketika aku menjadi murid pindahan di salah satu SLTP swasta diBanjarmasin.Dan seperti murid baru pada umumnya.Aku menghiasi diriku dengan kebungkaman.Hening diantara keramaian tawa anak-anak lain yang asyik bercanda disekelilingku.Tapi Irma yang waktu itu menjadi teman sebangku ku,rupanya tak mengijinkan keterasinganku itu berlarut-larut.Di tiga hari kesendirianku.Ia memasuki kesepianku dengan suara riangnya.”Kamu kok bengong aja.Ngomong dong?”.Katanya,sambil menepuk pundakku.Aku terkejut,hanya bisa membalas dengan senyum.Aku saat itu sedang melamun dan tak sempat menyiapkan kata-kata untuk membalasnya.”Nama kamu ismu kan.Aku Irma”.Lagi-lagi aku hanya membalas dengan senyumku.”Oh iya.Kamu tau kan kalo pak Zain tadi ngasih kita Pr bahasa inggris.Kita kerjain dirumah ku yuk?”.
“Kapan?”.Sahutku.Akhirnya.
“Sore ini”.Aku mengangguk setuju.Ia pun lantas memberi tahuku alamat rumahnya.Dan segalanya pun dimulai sejak saat itu.Aku jatuh cinta pada Irma untuk hari-hari berikutnya.Cinta yang pertama namun dalam.Karena cinta itu tak kucari tapi datang sendiri dalam kepasifanku.Ia yang dulu kuanggap sebagai dongeng para pujangga kini hidup dihatiku.Menjadikan diriku sendiri bagian dari dongeng itu.Dan mereka yang oleh cinta tak diajari bagaimana cara membaca perasaan.Tak akan mengerti makna dibalik dongeng itu.Sama seperti ketika cinta menganugrahiku dengan bahasa dan air mata yang tak sempat dimengerti oleh Irma,hingga saat hari kelulusan sekolah kami dan ia pun berlalu.
Sejak saat itu.Lima tahun lamanya aku tak berjumpa dengannya lagi.Tapi segala kenangan dan bayangan seorang Irma menciptakan hantu rasa penyesalan disepanjang jalanku.Bila malam tiba,Ia hadir laksana sayap-sayap tak nampak disekeliling ranjangku.Dikala aku sedang menyendiri.Ia menjelma menjadi jeritan kerinduan didasar hati dan mengucurkan bayangan kehilangan dikelopak mata.Irma yang periang,yang dulu menjadi mutiara terindah masa mudaku.Kini tak ubahnya seperti batu pualam yang bergetar bisu dihatiku.Dikubur oleh waktu demi mencemerlangkannya untuk menyakitiku.Karena kecemerlangannya itu tak pernah kumiliki.
Pada suatu malam.Ketika aku pulang dari tempat kerja.Ku dengar suara klakson motor yang cukup keras berbunyi dibelakangku.Segera kutoleh sumber suara itu.Dan aku temukanlah wajah perasaan yang tak tuntas itu.Irma duduk diatas motornya.Parasnya tak berubah malah semakin terlihat cantik.Waktu rupanya tak membuatnya menua,melainkan hanya mematangkannya.”Hei,ismu.Kamu masih ingat aku kan.Aku Irma”.Jeritnya.
“Ya,aku ingat!Aku tak mungkin melupakanmu”.Sahutku.Kami berdua lantas larut membaca ayat-ayat nostalgia,yang terukir diwajah kami.Sanubariku merasakan perasaan Adam ketika ia bertemu Hawa.kebahagiaanku saat itu membuatku lupa bahwa aku hanyalah rubah yang baru meraih bunga.Aku berfikir pertemuanku kembali dengan Irma.Adalah jawaban tuhan atas segala doa-doaku padaNya.Ia lah yang menciptakan rasa itu.Maka Ia pulalah yang berkenan mengakhiri dan mempersatukannya.
Satu minggu sejak malam itu.Ku putuskan untuk mengungkapkan perasaanku yang tertunda pada Irma.Ku undang ia makan malam dan tanpa berbasi-basi lagi kuungkapkan apa yang seharusnya kuungkapkan bertahun-tahun lalu.”Aku mencintaimu sahabatku”.Bisik hatiku.Tapi sebelum ia terangkai berupa kata-kata melalui bibirku.Irma terlebih dulu membungkamnya dengan keras.”Aku sebentar lagi akan menikah”.Ia mengatakan itu semua dengan senyum yang terukir diwajahnya.Aku mendengar itu semua dengan airmata yang mengucur dihatiku.”Aku ingin mengundangmu datang dan menjadi saksi saat –saat persatuanku dengan belahan jiwaku itu”.Aku membisu.Segala kehadirannya.Apa yang diucapkan dan dirasanya.Berbeda dengan penglihatan bathinku.Irma yang malam ini tadinya seperti bidadari.Kini menjelma menjadi seorang algojo yang muncul dihadapanku,untuk mengundangku datang menyaksikan eksekusi mati anak semata wayangku.”Apakah kamu akan datang?”.
“Ya,aku akan datang dan menyaksikan saat-saat penyatuanmu itu”.Ketika menyanggupi undangannya itu.Aku sudah merasakan kehancuranku sebelum menggapai hari itu.Dan malamku yang tadinya.Seharusnya! bertabur bunga dan menggawaiku kedalam taman cinta.Kini pada jalan pulangku nampak sangat mencekam.Dikiri-kananku.Jiwaku menemukan bayangan Irma dan calon suaminya menggiringku menuju neraka.Tempat hukuman bagi hatiku karena tak pernah mengucapkan apa yang dirasanya.Dalam kitab cinta.Diam itu ternyata bukan emas melainkan suatu dosa besar.Dan aku tak akan pernah mendapat ampunan seumur hidupku.
Ketika saat-saat penyatuan Irma dan suaminya itu tiba.Aku memasuki mahligainya yang sakral dengan jubah penderitaan.Aku salami Irma,sang mempelai yang tak pernah kudapatkan dengan tangan yang gemetar.Karena kuserahkan pula ditangannya hatiku untuk dipatahkan.Irma rupanya merasakan kepingan-kepingan hatiku diantara jemarinya.Ia bertanya padaku.”Hari ini adalah hari pernikahanku.Hari paling bahagia dalam hidupku.Tapi mengapa kau datang dengan wajah seolah berduka cita?”.Aku lantas menatap wajahnya seperti tatapan burung malam bermata kelam pada mentari pagi,lalu menjawab.”Bersamaan dengan hari pernikahanmu ini.Digelar pula prosesi pemakaman untuk cintaku.Ia yang sekian lama menyelami kedalaman rahasiamu telah mati dengan penuh penyesalan dan dikubur dibawah ranjang pengantinmu.Apakah kau ingin tau pesan terakhirnya sebelum roh suci itu tercerabut dari dadaku?”.
“Ya,aku ingin tau”.Sahut irma.
“My dear Irma,Sorry,I’m late”. Read More..